Kamis, 17 November 2011
In:
cerpen
Mobil Ayahku
Setelah bertahun-tahun bekerja keras dan menabung,akhirnya Ayah bisa membeli sebuah mobil. tidak baru,tetapi masih baik. sebuah Toyota Corolla tahun 73. berkat mobil itu,kami kini tak perlu berpanas hujan lagi saat menunggu kendaraan umum.
Sangat menyenangkan,tetapi kami harus lebih hemat lagi. Sebab kini ada pengeluaran tambahan untuk bensin dan perawatan mobil. Selain itu,ada jiga perubahan yang kurang baik. Mas Tono dan aku si bungsu,setiap sore selalu merengek mengajak ayah keliling kota. Padahal ayah masih lelah.....
Mas Tito kakak sulung ku,malah memintak belajar menyetir mobil. Karena Mas Tito sudah duduk di kelas 2 SMA,ayah mengijinkannya.
Pada suatu minggu pagi,Mas Tito dan Mas Tono membangun kan ku..."sssstttt.... ayo ikut!"bisik mereka,"Kita naik mobil. Mumpung Ayah masih tidur."
Aku tidak membantah. Tanpa cuci muka,kuikuti kedua kakak ku. Agar Ayah dan Ibuku tidak terbangun,mobil itu didorong dulu keluar rumah. Baru mesinnya di hidupkan. Mobil meluncur dengan laju . Jalan masih sepi
"ke mana kita mama?"tanya mas Tito pada mas Tono. "hmmmm... terserah papa sajalah,"jawab Tono. Aku tertawa. Kedua kakakku itu meniru percakapan yang sering diucapkan mama dengan papa. Hahahahah....
persis sekali.
"hai,lihat!Ninuk sedang belajar sepeda!"seru Kak Tono. Cit!Mobil direm di dekat Ninuk. "Hallo,Nuk!apa kabar?"sapa kami. "O,mas Tito. Hebat banget,nyetir mobil sendiri,"Ninuk kagum. Kak Tito tersenyum bangga. Mobil meluncur kembali. Bukan main gembiranya kami.
Tetapi ....mobil baru saja menyebrangi sebuah persimpangan,tiba-tiba seorang polisi lalu lintas menghentikan kendaraan kami. Ternyata Mas Tito salah jalan. Karena terlalu gembira,ia tidak melihat tanda larangan disana. aku hampir menagis. Mas Tito kan,belum punya SIM. Kami juga tidak bawak STNK!
"hmmm.... kalian anak-anak rupanya?"kata Pak Polisi setelah melihat kami,"kalian pasti belum mempunyai SIM"
Mas Tito hanya mengangguk dengan wacah pucat. "kalau begitu,antar saya kerumah kalian"katanya."orang tua mu harus diberi tahu" Pak polisi segera masuk dan duduk disebelahku.
Setibanya di rumah,tampak Ayah dan Ibu di beranda muka. Pak polisi bersalaman dengan Ayah. Tidak lama,ayah pun memanggil kami. "Tito,ayah sedih sekali. Ayah harap,kau bisa memberi contoh yang baik pada adik-adik mu,"kata ayah
"juga kau Tono....."ayah terdiam sejenak."juga kamu Gito...."kata ayah pada ku
he!aku?akukan cuma ikit-ikutan!"meskipun kamu masih kecil,tetapi kamu harus sudah belajar membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,"lanjut ayah."jangan mengikuti saja".
Aku mengerti sekarang. Setelah Pak Polisi pulang,kami masih tetap duduk merenungi. Menyesal
Sangat menyenangkan,tetapi kami harus lebih hemat lagi. Sebab kini ada pengeluaran tambahan untuk bensin dan perawatan mobil. Selain itu,ada jiga perubahan yang kurang baik. Mas Tono dan aku si bungsu,setiap sore selalu merengek mengajak ayah keliling kota. Padahal ayah masih lelah.....
Mas Tito kakak sulung ku,malah memintak belajar menyetir mobil. Karena Mas Tito sudah duduk di kelas 2 SMA,ayah mengijinkannya.
Pada suatu minggu pagi,Mas Tito dan Mas Tono membangun kan ku..."sssstttt.... ayo ikut!"bisik mereka,"Kita naik mobil. Mumpung Ayah masih tidur."
Aku tidak membantah. Tanpa cuci muka,kuikuti kedua kakak ku. Agar Ayah dan Ibuku tidak terbangun,mobil itu didorong dulu keluar rumah. Baru mesinnya di hidupkan. Mobil meluncur dengan laju . Jalan masih sepi
"ke mana kita mama?"tanya mas Tito pada mas Tono. "hmmmm... terserah papa sajalah,"jawab Tono. Aku tertawa. Kedua kakakku itu meniru percakapan yang sering diucapkan mama dengan papa. Hahahahah....
persis sekali.
"hai,lihat!Ninuk sedang belajar sepeda!"seru Kak Tono. Cit!Mobil direm di dekat Ninuk. "Hallo,Nuk!apa kabar?"sapa kami. "O,mas Tito. Hebat banget,nyetir mobil sendiri,"Ninuk kagum. Kak Tito tersenyum bangga. Mobil meluncur kembali. Bukan main gembiranya kami.
Tetapi ....mobil baru saja menyebrangi sebuah persimpangan,tiba-tiba seorang polisi lalu lintas menghentikan kendaraan kami. Ternyata Mas Tito salah jalan. Karena terlalu gembira,ia tidak melihat tanda larangan disana. aku hampir menagis. Mas Tito kan,belum punya SIM. Kami juga tidak bawak STNK!
"hmmm.... kalian anak-anak rupanya?"kata Pak Polisi setelah melihat kami,"kalian pasti belum mempunyai SIM"
Mas Tito hanya mengangguk dengan wacah pucat. "kalau begitu,antar saya kerumah kalian"katanya."orang tua mu harus diberi tahu" Pak polisi segera masuk dan duduk disebelahku.
Setibanya di rumah,tampak Ayah dan Ibu di beranda muka. Pak polisi bersalaman dengan Ayah. Tidak lama,ayah pun memanggil kami. "Tito,ayah sedih sekali. Ayah harap,kau bisa memberi contoh yang baik pada adik-adik mu,"kata ayah
"juga kau Tono....."ayah terdiam sejenak."juga kamu Gito...."kata ayah pada ku
he!aku?akukan cuma ikit-ikutan!"meskipun kamu masih kecil,tetapi kamu harus sudah belajar membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,"lanjut ayah."jangan mengikuti saja".
Aku mengerti sekarang. Setelah Pak Polisi pulang,kami masih tetap duduk merenungi. Menyesal
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar